“Butet, ikutilah gairah dan hatimu…”
Perempuan muda ini menjadi tempatku berkaca. Pertama kali ketika melihat profile perempuan muda ini pada saah salah satu iklan layanan masyarakat di televisi, menyembulkan rasa ingin tahuku. Lalu mencari tahu jati diri perempuan muda tak biasa ini. Dan kuyakini ia termasuk satu dari perempuan hebat Indonesia.
Menurutku, Butetlah tipikal Kartini era modern. Yang tak hanya menggugat secara normatif ketika terjadi banyak ketidakberesan di masyarakat, namun memilih langsung bergerak di kehidupan nyata. Berani menentukan sikap dan mengikuti panggilan hati. Di jaman global yang memuja materialisme saat ini, ia berani membalikkan segala logika. Karena kita semua, secara sadar dan tidak sadar terpenjara pada tipikal yang sama bahwa hidup yang bahagia adalah hidup dalam limpahan materi, memiliki bentuk fisik yang menarik, pendidikan tinggi dan lingkungan sosial yang penuh dengan kalangan berada. Padahal, ada banyak definisi kebahagiaan yang bisa kau pilih dan rasakan.
Butet adalah seorang petualang kehidupan yang mencintai alam. Sorot matanya yang tajam tak mampu disamarkan dari tubuh ringkih perempuannya. Ketika kaum hawa lainnya begitu lulus kuliah berlomba-lomba melamar kerja pada berbagai perusahaan bergengsi agar dapat segera hidup mapan, ia ikuti kata hati. Meninggalkan kota yang sibuk dan hingar bingar, mengembara bergabung dengan Suku Anak Dalam di hutan hujan Bukit Tujuh Belas Jambi, Sumatera bagian timur yang mulai rusak akibat keserakahan manusia yang ironisnya tak pernah tinggal di hutan tersebut.
Ketika orang memilih bergabung dengan kelompok kuat di bidang ekonomi, politik dan kekuasaan, melalui partai dan berbagai organisasi kemasyarakatan,untuk mendapatkan kepuasan pribadi, Butet memilih membantu anak-anak Suku Anak Dalam belajar membaca dan berhitung dengan cara sederhana yang dapat mereka pahami. Juga belajar mencintai dan memelihara alam, yang menjadi tempat mereka menggantungkan kehidupan. Membantu suku terasing ini belajar membela diri terhadap apa yang mereka miliki dari serangan sesama saudara sebangsa yang tak puas-puasnya menumpuk harta dari menggerus alam. Ia berdiri di sisi mereka yang termarginal dari kehidupan. Yang takkan kuat membayar segala lelah, empati dan pengorbanan yang ia berikan. Hanya rasa terima kasih yang ia dapat, walau tak terucap dari bibir namun tersirat dari mata mereka yang lugu.
Masih banyak ternyata, perempuan cerdas tak termakan iklan. Butet tak begitu peduli pada penjagaan keindahan fisik berlebihan yang telah menjadi dogma wanita era millineum. Yang menjadikan kecantikan sebagai berhala baru yang mereka puja, demi kesenangan pribadi dan alat pemikat untuk berbagai kepentingan dan tujuan. Banyak perempuan yang rela menebus keindahan kulit putih mulus, rambut hitam lurus bercahaya, wajah tanpa noda, kulit tanpa strechmark dengan berjuta-juta rupiah tak masuk akal, yang seharusnya bisa mereka gunakan sebagai investasi masa depan, biaya meng-upgrade pendidikan dan skill, atau menyumbang biaya pendidikan anak-anak terlantar. Bayangkan, berapa banyak anak-anak perempuan putus sekolah yang bisa diselamatkan masa depannya dari dana kecantikan ini? Belum lagi rasa kesakitan dan ketagihan jika kau serahkan tubuhmu untuk dipermak di meja operasi bedah. Banyak kasus operasi plastik yang menimbulkan perasaan terobsesi untuk mempermak lagi dan lagi.
Butet pribadi sederhana, yang memilih mempercantik hati, pikiran dan karakternya. Tentu, tinggal di hutan beresiko pada tak maksimalnya perawatan tubuh, tapi takkan membuatnya lupa pada kodrat sebagai perempuan. Ia bersarung, memilih melebur menjadi bagian suku anak dalam. Bukan ‘kau dari pedalaman dan aku orang kota’, tapi ‘ aku ada, karena bagian dari kalian semua.’
Sebagai sesama pengajar, ia mengingatkanku bahwa belajar dapat dilakukan dalam segala kondisi. Tak harus dengan alat peraga mahal, metode rumit yang penuh jargon namun tak terealisasi. Butet membuktikan bahwa ranting pohon, daun, desir angin dan batu juga bisa menjadi media pembelajaran yang asik bagi anak didik. Semua tergantung pada hati sang guru, pada niatmu untuk memberi ilmu dan pencerahan. Sebagai balasan, Tuhan yang akan menganugerahkan energi baru untuk mencipta metode yang tepat untuk anak didik. Semua pengalamannya terekam dan terangkum dalam buku “Sokola Rimba”. Bukan metode belajar aku memberi dan engkau menerima, tapi engkau dan aku belajar bersama. Dan alam telah menggenapkan kita untuk menjadi dewasa dan bijaksana.
Butet, tetaplah ikuti gairah dan hatimu, memberi warna baru pada kami, wanita Indonesia yag tak hanya cantik, tapi cerdas akal dan hati. Menjadi Kartini selanjutnya yang berani menjadi diri sendiri dan bermanfaat bagi masyarakat. Tak heran jika majalah Time Asia memilihmu sebagai salah satu pahlawan kawasan Asia. Semoga Tuhan selalu menyayangimu.




Mei 4th, 2010 at 08:34
Setuju, mbak Shita. Perempuan-perempuan tegar seperti Butet ini yang pantas disebut pejuang dan pahlawan. Jadi malu, aku, rasanya semangat mengajarku belum ada separuhnya dari dia…
Mei 5th, 2010 at 05:19
betul batikmania, dia perempuan yang membuat kita jadi mengevaluasi diri sebagai wanita dan pengajar. salut deh
Mei 5th, 2010 at 09:55
Butet,, yes like this… inspring woman yang patut ditiru
mampir juga ya :
http://cwonarsiz.blogdetik.com/2010/04/22/maia-estianty-my-inspiring-woman/
Mei 5th, 2010 at 10:45
Betul. .Betul betul. .Duh, knp se aq kelupaan ma itoku yg satu ini? Butet . . .Dia wanita yg penuh asa dan semangat yg tdk pernah surut. . . Berkat dia, penduduk dipedalaman sana jd tau huruf dan angka. .
Tq buat jasamu butet. . . Bknjung y ke http://surantoboy.blogdetik.com/wanita-indonesia-sehebat-pengorbanannya/
Mei 5th, 2010 at 12:12
Ya bener bgt aku juga acungin 2 jempol buat butet,,dia wanita…hebat…trs semangat
Mei 5th, 2010 at 13:55
Yang ini bisa nih disebut reinkarnasinya Kartini….
Hebat si butet ini….
Intip yach : http://Zeeith4.blogdetik.com
Mei 5th, 2010 at 14:09
Salam buat Butet, damai selalu dalam limpahan sang maha Pengcipta.
Mei 5th, 2010 at 22:21
Patut ditiru si butet…
Jarang udah yang seperti dia.
Mampir ya :
http://adamnyarihawa.blogdetik.com/2010/04/29/21-kartini/
Mei 5th, 2010 at 23:19
Setahu saya “buta” bukanlah penyakit menular. Buta terjadi sebagai cacat bawaan atau akibat sesuatu hal yang menimpa seseorang kemudian mengakibatkan kebutaan. Tetapi entah mengapa saat ini “buta” jadi semacam penyakit menular. Bukan “buta matanya” tetapi “hatinya yang buta”. Maka beruntunglah orang yang “buta matanya”, tetapi “hatinya melihat”.
Mei 6th, 2010 at 05:33
Banyak teladan yang lalu-lalang di sekitar hidup kita. Kemalasan, kesombongan dan apatisme sering membuat kita tak pernah memahami tentang sesama.
Persahabatan adalah jalan menghadapi keputusasaan dan menumbuhkan harapan.
Sedikit sapaan mu akan membuat kebahagiaan bagi ku.
Sahabat baru
Mei 6th, 2010 at 07:14
salut sama butet… pahlawan wanita masa kini :thumbup:
Mei 6th, 2010 at 07:34
1000 jempol untuk kak butet, salut ^_^
Mei 6th, 2010 at 08:10
tulisan nya inspiring aku mba,
berapa banyak butet yah jaman sekarang itu yang aku pertanyakan juga kepada diri ku sendiri
Mei 6th, 2010 at 08:58
Yah jaman sekarang emg seperti itu mbak… tapi salut nih buat butet yg hatinya bener2 ikhlas..
http://nicefine.net
Mei 6th, 2010 at 09:42
Kartini - kartini masa kini yang terus bermunculan..!!Salam kenal..!!
Mei 9th, 2010 at 14:41
salam kenal juga Fauzan
Mei 20th, 2010 at 17:18
Selamat buat mbak Shita, sang penyuara Kartini. Mbak Shita juga salah satu inspiring woman, lho
Mei 20th, 2010 at 20:17
Selamat ya mba…
Menang blog contest..
Mei 21st, 2010 at 07:07
selamat, sudah menjadi pemenang
Mei 21st, 2010 at 08:21
Mantap mbak,.
Terima kasih mbak telah meliput sebagian dr wrga jambi.
Karna saya jg berasal dr jambi. Tepatnya di Kuala Tungkal.
Mei 21st, 2010 at 09:44
Terima kasih buat semua pihak
senang sekali jika tulisan ini menginspirasi, semoga kita menjadi orang yang jauh lebih baik dari hari ke hari
September 12th, 2010 at 11:24
Patut untuk dilakukan juga nich.