“Selalu Ada Jiwa Pahlawan Dalam Diri Manusia..”

10 Nov 2010

Aku tak pernah bisa melupakan quote yang diucapkan Spiderman ketika ia terluka tak berdaya, baju terkoyak dan semua penumpang subway yang tergantung di udara tak peduli sedang terancam jiwanya, bahu membahu menjaga sang pahlawan dari serangan sang penjahat bersulur besi. Pasti tak banyak yang tahu, jika pahlawan pop Spiderman juga mengajarkan nilai kearifan dalam kehidupan. Pahlawan, banyak orang pesimis masihkah ada pahlawan di sekitar kita?spiderman1

Tapi saya orang yang berpandangan optimis, berusaha melihat dunia dari kacamata keindahan. Begitu banyak pahlawan datang, di saat yang tepat untuk menolong, untuk membantuku menjadi seseorang. Walau arti pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang berjuang dengan gagah berani, ini pahlawan dalam arti sempit menurutku.

Dalam arti luas, bagiku pahlawan adalah seseorang yang memberdayakan dirinya agar berguna bagi orang lain. Bapakku yang sederhana, adalah pahlawan bagiku. Beliau tak kenal lelah mengajar dari pagi hingga petang menjelang, untuk mendapat penghasilan halal guna menghidupi keluarga, agar kami hidup layak. Menjelang Maghrib, tubuhnya yang ringkih dan lelah, kadang basah kuyup akibat hujan deras mendera namun tak pernah mengeluh. Masih menyempatkan diri menjadi imam sholat Maghrib keluarga, mengecek PR kami, dan terkadang masih sempat bercerita tentang epik Mahabarata menjelang anak-anaknya tidur atau bersenandung Megatruh atau Maskumambang. Jika teramat lelah, beliau memilih diam, selesai sholat Maghrib,makan malam lalu beranjak tidur, meminta tak diganggu, memulihkan tenaga untuk kembali bekerja keesokan hari.

Beliau tak pernah memintaku menjadi yang terbaik, tapi selalu antusias, memberi hal terbaik yang aku perlukan saat aku harus mengikuti kegiatan atau kompetisi. Jika kalah, akan dielusnya kepalaku penuh sayang tanda penghiburan. Jika menang, dihadiahinya aku sinar mata penuh kebanggaan meski tanpa bicara. Walau tanpa hadiah, tapi tatap mata penuh bangga dan pelukannya yang selalu menghangatkan hati, takkan pernah bisa kulupa hingga hari ini.

Setiap manusia pernah mengalami pasang surut. Perjalanan hidup mengenalkanku pada pahlawan yang lain. Pak Tum, begitu biasa aku memanggilnya. Lelaki bijak, sukses, mapan namun sangat menghargai setiap orang di sekitarnya. “Kamu tidak bodoh, Ta.” diucapkannya itu saat aku jatuh terpuruk. Kalimat pendek, yang selalu terngiang di kepala, membuat aku kembali bersemangat menapaki hidup dan ingin membuktikan bahwa ucapannya memang tak salah.

Beliau adalah pahlawan dalam arti sebenarnya, yang tak hanya bicara tapi dibuktikan dalam tindakan nyata, membantu apapun yang ia bisa baik materi, ilmu dan kesempatan bagi yang membutuhkan, dan sama sekali tak menuntut balas. Yang mencintai keluarganya namun juga mencintai kehidupan di sekitarnya. Telah begitu banyak orang yang dapat hidup sejahtera karena uluran tangannya. Aku sangat mengaguminya, lelaki yang menggenggam dunia dalam tangannya namun teramat lembut bersikap pada istri dan anak-anaknya. Pernah beliau berkata, “Lelaki yang mengkhianati keluarga, tak layak jadi pemimpin dan dipercaya masyarakat. Kau boleh ingatkan aku jika sampai mendua, melupakan istri dan anak-anakku.” Berapa banyak lelaki seperti ini yang masih tersisa di muka bumi ini? Harusnya, ia menjadi cermin para lelaki kepala keluarga, agar selalu menjadi pahlawan bagi keluarganya.

Pahlawan, adalah tiap manusia yang mewarnai dunia dengan kebajikan. Karena tiap berbuat kebaikan, bukankah itu mendatangkan kebahagiaan di hati? Melihat orang lain tersenyum bahagia, maka selaksa damai menyusup ke hati. Kitapun bisa menjadi pahlawan, setidaknya bagi diri kita sendiri. Dengan menghargai anugerah fisik yang kita miliki, dan mengoptimalkan penggunaannya tanpa merugikan orang lain. Jika ucapan yang keluar dari mulut kita hanya akan menyakiti, membuat orang lain patah semangat, lebih baik memilih diam. Jika tangan tak bisa mengulurkan bantuan, setidaknya jangan menerima suap atau menggunakannya untuk menampar. Jika tak bisa membuat orang lain bahagia, setidaknya jangan membuat orang lain terluka, yang akan mendorongnya mendoakan kemalangan kita. Karena Tuhan mengabulkan doa orang yang teraniaya, cepat atau lambat.

Pahlawan, tidak hanya tercipta dari mereka yang dari lahir memiliki hati yang mulia. Pahlawan juga bisa tercipta oleh keadaan. Seorang pelacur terpilih sebagai penghuni surga, karena memilih memberikan air minumnya demi kelangsungan hidup seekor anjing daripada dirinya sendiri. Tuhan tak memilih profesi, melainkan hati.

Sebuah tragedi terjadi di Amerika pada tahun 1980-an. Seorang gadis pemenang kontes kecantikan, tewas dianiaya oleh beberapa orang pemuda di wilayah padat penduduk, dan ironisnya tak seorangpun berani menolongnya. Mereka hanya menonton tragedi itu dari flat masing-masing. Menurut teori power of context, orang cenderung terketuk bertindak baik ataupun buruk berdasar situasi yang dihadapi. Dalam kasus ini, semua orang berusaha mengandalkan orang lain untuk menjadi pahlawan bagi si gadis. Jika penganiayaan itu terjadi di tempat sepi dan hanya disaksikan satu atau dua orang, mungkin nyawanya justru terselamatkan. Karena ketika sendiri, manusia merasa lebih punya kewajiban untuk menolong sang korban, untuk terpanggil menjadi pahlawan.

Ketika kita peduli dan menyumbang sebagian rizki atau memilih menjadi sukarelawan bencana Mentawai dan Merapi, maka kita telah berproses menjadi pahlawan. Jika menjadi pejabat kita belum tergerak menolong rakyat yang kesusahan, setidaknya janganlah mengeluarkan pernyataan yang membuat luka hati para korban. Atau datang ke lokasi bencana dengan membawa simbol-simbol yang ingin dijual, atau rombongan pengamanan yang merepotkan. Berusaha menarik simpati para korban, menaikkan popularitas diri dan ditukar dengan bantuan ala kadarnya yang dibawa. Atau menyumbang korban bencana dengan makanan kadaluwarsa, bukannya membantu malah merepotkan dan menumpuk sampah di lokasi bencana. Sama artinya kita telah menjadi pahlawan yang paling dibenci dan dihindari….pahlawan kesiangan^_^.


TAGS pahlawan teori poer of context nilai kebajikan


-

Author

Follow Me