Malu? Kata apa itu?

28 Feb 2011

Malu dan lupa, sepertinya dua kata sifat ini sedang jadi primadona di bumi Indonesia. Banyak sekali berkeliaran di teks berita surat kabar dan majalah berita. Dua kata yang kesaktiannya mengalahkan alakazam dan abrakadabra. Menindih berat kata jujur, tanggung jawab dan wibawa, yang kalah telak harus menyingkir dari perpolitikan tanah air.

Malu, telah raib menghilang dan usang. Biarpun engkau seorang koruptor besar yang menilep uang rakyat milyaran, membuat hutang negara membengkak tak terkendalikan. Semua dianggap sah milikmu, tak perlu dikembalikan pada negara karena pengadilan yang juga tanpa malu telah mengijinkanmu memilikinya. Mereka menjaminmu memiliki apa yang tak seharusnya engkau rampas dengan ringan hati dari penduduk miskin ini atas nama hukum negara, menggaransinya dengan ayat suci yang mereka pakai saat bersumpah sebagai penegak keadilan bagi negara yang membayar gajinya dengan pajak dari rakyat.

Malu sudah bukan bagian dari etika para petinggi pemerintahan, ataupun lembaga publik lainnya. Saat departemen yang dipimpin lebih banyak memikirkan membuat proyek yang akan mempertebal kantung, dibanding menjalankan program-program sederhana yang bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas bangsa.

Tak seorang menteripun malu, ketika memilih mengimpor cabe dari vietnam ketika harga produk dalam negeri merangkak tajam. Padahal kita negara pertanian, dengan lahan produktif yang demikian luas belum tergarap optimal. Kita memilih impor, dengan mengecilkan bea masuk yang akan membuat para petani makin terpuruk, karena kalah bersaing dengan produk impor.

Tak ada pejabat yang malu, ketika bangsa besar penduduknya dan besar bualannya ini selalu mengimpor beras untuk stabilisasi pangan. Semua memilih jalur short cut tanpa berpikir ke depan apa selamanya kita menjadi negara pengimpor dari kebutuhan dasar sekalipun? Begitu bodohkah petani kita hingga tak tahu cara bercocok tanam yang benar? Sementara teknologi sederhana dengan plastik mulsa dan sistem green house sederhana bisa membuat seorang petani memproduksi cabai empat kali lipat dari petani biasa ! Dan dia tak pelit berbagi ilmu pada sesamanya.

Maka tugasmulah para pegawai negeri dari Departemen Pertanian untuk membantu dan mendampingi para petani menggarap lahannya secara optimal.Jepang, dengan lahan pertanian yang terbatas dan tanah tandus bisa menghasilkan produk pertanian jempolan, kenapa tak ada yang malu?

Mengapa tidak ada yang malu, ketika para PNS ini keluyuran di mall pada jam kerja? Nongkrong di warung ngobrol berjam-jam tanpa merasa berdosa? Setiap jumat setelah acara olah raga di pagi hari, nongkrong mencari sarapan, pulang ganti baju dan kembali ke kantor menunggu jam pulang?

Wahai para ketua dan presiden dari organisasi dan perkumpulan ini itu, yang tak lagi diharapkan menjadi pemimpin karena prestasi nol besar, tak adakah secuil rasa malu, ketika engkau ngotot bertahan dan merasa berprestasi ketika semua orang sudah merasa muak dan tak ingin lagi melihatmu duduk di kursi empuk itu, menghitung jumlah uang yang kau dapat dari sponsor, penjualan tiket dan sebagainya, yang tak tahu dicatat dalam pembukuan apa dan siapa yang memeriksa. Yang ngotot harus mengikuti aturan FIFA padahal engkau pelanggar terbesar dari aturan itu?

nurdinMenebalkan kuping memang tindakan baik untuk meraih cita-cita (mulia) ketika semua orang meragukan kemampuan. Tapi jika kehadiranmu hanya merusak tatanan, dan engkau terbukti tak mampu mengurus dengan baik organisasi yang kau pimpin tapi engkau masih berusaha keras bertahan memimpin dengan dukungan para pengikut yang sakunya engkau penuhi dengan dana kesejahteraan, apakah malu telah lari tunggang langgang?

Saya takut, sebentar lagi kata malu punah dari kosa kata bahasa Indonesia. Alangkah mengerikannya!


TAGS korupsi PNS Nurdin Halid impor cabe PSSI Kecurangan korupsi waktu


-

Author

Follow Me