Aku Tidak mau batal puasa, titik!

18 Aug 2011

Memiliki anak perfeksionis memang butuh tantangan tersendiri. Mesti punya banyak trik dan kesabaran maha luas menghadapinya. tapi, anak-anak ini juga cenderung memiliki pribadi yang unik. Anak perfeksionis akan menuntut dirinya sendiri untuk sesempurna mungkin sesuai dengan konsep. Contohnya, soal sholat, ia akan selalu sholat tepat waktu, dimanapun ia berada dan apapun acaranya. Maka jangan heran jika satu saat bertemu seorang anak sholat di mobil atau tempat parkir demi sebuah ketepatan waktu sholat.

Demikian pula halnya dengan puasa. sejak kelas dua SD si kakak telah menjalankan puasa sehari penuh tanpa diminta atau diiming-imingi hadiah. Bahkan ia akan marah jika aku telat membangunkannya sahur. Bahkan saat sakitpun ia menolak membatalkan puasa. Sebagai ibu, aku bahkan tak tega melihat “keteguhan imannya.” :) Baginya, sebagai muslim yang taat ia wajib berpuasa apapun kondisinya.

Kisah ini terjadi beberapa tahun lampau
Saat itu, kami sedang dalam perjalanan mudik ke Jawa Tengah di penghujung bulan Ramadhan karena ayahnya harus menyelesaikan proyek dulu. Pastilah semua tahu, betapa padat, ruwet dan beratnya mudik memakai mobil pribadi di H-1. Tak terkecuali kami. Berangkat mudik jam dua malam, kami baru sampai Pemalang selepas Dzuhur. Begitu melelahkan dan menguras energi padahal perjalanan masih panjang.

Cuaca panas, matahari bersinar terik menyilaukan. Debu beterbangan di jalanan. Para pedagang makanan dan minuman dingin bersliweran menggoda iman di depan mobil kami yang diam tak bergerak akibat macet. AC di mobil rasanya sudah tak bisa menjinakkan gerah dan pengapnya udara. Suasana di jalan lebih parah lagi. Buat aku yang imannya masih setipis kertas ini, benar-benar sudah diambang menyerah. Tenggorokan yang kering terasa mencekik leher sementara keringat mulai mengalir membasahi tubuh seperti lirik lagu Rhoma Irama. Aku merasa benar-benar kisut, kering berkerut-kerut. \”Aku butuh aiiiiiiiiiiir….\” kataku meniru gaya Sponge Bob yang sedang dikerjain Shandy Cheek. Langsung si kakak berteriak galak, \”Ibu, kita sedang puasa tak boleh membicarakan makanan dan minuman. Sudah baligh kan harus penuh puasanya.”
“Iya kak, tapi kallau orang dalam perjalanan itu boleh membatalkan puasa kalau tidak kuat. nanti bisa diganti setelah Lebaran….” kata si Ayah mengompori. Hihi..ada dua “setan” kepanasan sudah tak tahan pengen minum air es.
“Pokoknya tidak ada yang boleh batal puasa, kecuali adek…..!” katanya sambil menunjuk adiknya yang sedang ngedot susu botol. Huuu…sadisnya @_@. Ia sendiri, seperti juga kami sudah sangat kepayahan. Kakak sudah berganti baju dua kali, wajahnya pucat dan bibirnya kering. Tapi ia memang teguh iman, seteguh Bilal yang dijemur di padang pasir. Tentu, ada perasaan malu pada anakku.

Karena lalu lintas macet, dan mobil bergerak selambat siput kami putuskan untuk berhenti dulu di sebuah SPBU yang kebetulan ada sebuah warung makan yang masakannya enak banget tapi harganya gak mahal. Curiga juga sih, kok si Ayah sengaja ngajak berhentinya di SPBU yang biasa kami kunjungi wisata kuliner?

Ada sebuah warung makan sederhana yang menyajikan berbagai menu berbahan dasar ikan segar. Yang spesial, Pindang serani . Ini makanan favorit kami. Pindang ikannya itu loh,…begitu harum mengelus hidung kami yang (Kayaknya sengaja) melewatkan diri ketika pergi ke toilet. Sejenak mata melirik ke arah masakan yang dijajar rapi di meja. Duh, si pindang serani duduk manis memanggil kami di sebuah baskom besar yang menguarkan wangi rempah, diselingi cabai-cabai utuh yang berenang di kuah yang segar pedas itu. Aku lirik lagi dan kulihat kuah berminyaknya yang menggiurkan. Slllrrruuuppp…..!! Seketika lapar menerjang.

Maka, ampuni kami Ya Allah karena tergoda dan memutuskan untuk batal puasa. Tapi si kakak tetap pasang wajah kejam tak peduli. Tekadnya satu, menyelesaikan puasa sebulan penuh tanpa bolong sedikitpun. Itu akan terekam penuh kebanggaan di Buku Kegiatan Ramadhan yang dibagikan sekolah.
\”Kakak..please kali ini aja kita batal yah..besok dah enggak lagi..\” (Ya iyalah, secara tinggal sehari lagi Ramadhannya).
\”Ibu.. ayah…kok kalian tidak bisa menahan diri sih?\” matanya mulai berkaca-kaca kecewa.
\”Maaf kakak…\” Aku mulai ragu dengan keputusan berbuka, sepayah apapun saat itu.
\”Ibu,..sini! Ayo ayah suapi..\”, si Ayah melambai.
Ups, tak kuduga si Ayah sudah nangkring di kursi makan dengan semangkuk pindang serani panas di depannya serta segelas besar es lemon tea yang berkeringat gelasnya. akhirnya aku menyerah, dan setan pun bertepuk tangan kegirangan melihat aku membatalkan puasa. Si kakak menangis.
\”Ibu…\”
\”Maaf ya sayang, tapi kakak juga sudah kepayahan. Hari ini kita batal puasa. Dosanya kakak ibu yang tanggung deh. Allah Maha Tahu dan akan tetap sayang kok sama kakak yang sholeh. Allah mah marahnya sama Ibu dan Ayah\”
Aku pesankan untuknya segelas jeruk hangat dan sup buntut kegemarannya yang mengepulkan asap. Melihat makanan kesukaannya ia sedikit melunak tapi masih sesenggukan. Menyeruput jeruk hangatnya dan menyendok makanan dengan rasa tak rela.
“Pokoknya hari ini dosaku batal puasa ditanggung ibu loh. Yang masuk neraka nanti Ibu loh. Di catatan buku Ramadhanku, harus dikasih tulisan kalau aku akan mengganti puasa yang batal hari ini. Hu…hu….Ini keterlaluan, ini sebuah skandal memalukan hu..hu….”
Beberapa pengunjung rumah makan melihat kami dengan pandangan ingin tahu. Aku mengangguk sambil senyum menyeringai yang memaksa mereka kembali sibuk dan berpaling ke makanannya masing-masing.
Sambil membantunya melepaskan daging dari tulang aku berbisik padanya, \”SSt,,,kakak…tolong ya, kejadian hari ini disimpan buat kita sendiri aja. Jangan diceritakan sama bu guru dan teman-teman di depan kelas ya…nanti ceritanya tentang liburan di rumah eyang saja,\” pintaku memelas malu.
“Ah Ibu…ternyata masih malu juga sama manusia tapi tidak sama Allah…”
Hoooaaaaaaaduoh……ketampar deh sama anaknya yang kelas 4 SD. Maafkan kami Ya Allah *_*


TAGS


-

Author

Follow Me