Album Baru Lagu Curhat Sang Raja

3 Nov 2011

“Dangdut is the music of my country…my country..oh my country…”dendang berulang kelompok project pop sambil berjoget gembira membuka acara di panggung terbuka di tengah alun-alun kotaraja. Ya kerajaan Dangdut sedang mengadakan pesta memperingati hari ‘Pemuda Berani Sumpah’. Segala macam sumpah akan digelar di sini. Mulai dari Sumpah Setia, Sumpah Mati, Sumpah Pocong, dan di Sumpah-sumpahin dengan Sumpah Serapah. Para elit politik dan kalangan artis pun diundang untuk memeriahkan suasana.

Dari artis sinetron termahal Duda Mercy-no dan tunangannya yang sangat cantik Aslijandah, pasangan duet maut Abang Heransyah-Kiranti, ada juga pasangan Intan Suka Bernyanyi-Joni, tak ketinggalan sepasang kekasih yang diberitakan sedang break namun hari itu rupanya mereka telah berdamai kembali terlihat datang berdua memakai kebaya pengantin rancangan sambil berpegangan mesra Yuki Tara dan Robi Rahmad datang untuk mengucapkan Sumpah Setia. Saat mereka mengucapkan sumpah setia sehidup bersama, tapi semati tetap sendiri-sendiri para hadirin bertepuk tangan turut bergembira. Ribuan kelopak bunga mawar dicurahkan dari atas panggung pertunjukan. Para rakyat turut bersuka cita sambil memberikan ucapan selamat. Para pasangan selebriti terlihat bahagia dan tak henti-hentinya mengumbar senyuman pada semua rakyat.

Beberapa mantri pembantu raja turut pula hadir memeriahkan acara. Mantri-mantri yang terpilih adalah mereka yang disangka terlibat dalam penggelapan uang kepeng kerajaan datang dikawal para prajurit untuk mengadakan Sumpah Pocong sebagai pembuktian kalau mereka benar-benar tidak terlibat dan turut menikmati kepeng jarahan Saparudin yang seyogyanya digunakan sebagai pembangunan pos ronda di setiap desa. Wajah mereka terlihat sangat ketakutan. Tertunduk lesu dan senyumnya kecut menghindari jepretan blitz dan sorotan kamera. Keluarga yang mengiringi dari belakang tak henti-henti berdoa agar Sumpah Pocong tak jadi dilakukan. Mereka tahu konsekuensi berbohong saat sumpah pocong. Tujuh turunan akan menderita seumur hidup. Wah….wajah tegang terlihat dengan jelas dari Saparudin dan para mantri raja.

Tak ketinggalan beberapa petinggi dan lurah yang suka membual janji-janji besar di depan rakyat saat diadakan pemilihan lurah tapi ketika terpilih mengingkari janjinya dengan tega turut latah menilep pajak rakyat hari itu juga digelandang ke atas pentas untuk menerima Sumpah Serapah dari seluruh rakyat kerajaan dangdut yang hadir di alun-alun hari itu. Mereka memakai jas mahal Armani yang terlihat mahal, licin dan rapi. Tubuh mereka wangi hasil semprotan parfume mahal dari luar negeri. Mereka datang dengan tertunduk lesu dan malu. Keluarga mereka datang dengan memakai topeng Scream yang seram karena malu ikut serta menikmati uang haram rakyat untuk piknik ke Amerikah dan Eropah. Para anak petinggi dan lurah yang biasanya eksis di facebook memamerkan fasilitas mewah yang diperoleh saat melancong ke Amerika dengan kepeng haram orang tuanya hari itu merasa malu ber-orang tua penilep harta negara sehingga memilih tutup muka. Ketika pasukan pengawal yang membawa mereka telah tiba di alun-alun, para petinggi ini dijejerkan rapi memasuki tempat acara diiringi koor rakyat yang riuh rendah. Seorang dirigen meneriakkan satu kalimat pembuka. “Hari ini Rakyat kecewa………!” disambung teriakan panjang “Huuuuuuuuuuu……………..” yang bersahut-sahutan dari rakyat di seantero alun-alun yang merasa marah karena menjadi korban pemborosan APBN untuk memilih lurah yang tak amanah karena suka menjarah. Lalu teriakan dirijen dilanjutkan. “Hari ini rakyat marah…….!” Maka rakyat dengan penuh emosi jiwa karena sudah kesal dengan berbagai kebobrokan dan kejahatan di kerajaan dangdut meneriakkan segala macam makian dan sumpah serapah pada para petinggi dan lurah yang telah berbuat salah. Tak puas dengan itu, rakyat juga melempari mereka dengan tomat busuk, telor busuk, gigi busuk, ikan busuk, beras busuk, pupuk busuk, baju bekas busuk dan kentang busuk yang semuanya diimpor oleh mantri urusan dagang dari negara tetangga. Malah ada yang akan melempar mercon busuk seberat 25 kg! Untunglah keburu ditangkap Densus 456 yang dengan sigap bak film action Steven Seagal menangkap tangan pemilik mercon. Maka para petinggi dan lurah tenggelam diantara barang-barang busuk yang dilemparkan rakyat. Bau busuk menyengat di mana-mana.mengalahkan harum parfum mahal yang dipakai para petinggi dan lurah. Seketika lalat dan ngengat datang menyergap. Mereka hinggap di dasi berharga 30 juta milik A,B,C seorang petinggi, juga merubungi jas mahal yang dipakai lurah P,Q, R,S. pada frame kacamata mahal Pak T,U, V, W dan ibu X,Y,Z lalat juga menyerang sanggul sebesar ban vespa ibu D dan janggut Pak E. suara lalat yang berkerumun di atas tumpukan petingi dan sampah busuk memekakkan telinga. Maka acara sumpah serapah dihentikan segera. Para pejabat dan lurah digiring keluar dari panggung dengan tubuh dan wajah belepotan. Bau busuk mereka membuat rakyat menutup hidung dan muntah-muntah saat rombongan ini lewat dikawal para prajurit raja. Maka panggung kembali lengang. tapi bukan berarti suasana tak tegang. Urat syaraf rakyat masih terulur kencang hendak melampiaskan kemarahan. Melempari para pejabat kerajaan yang menjadi tikus kepeng jelas sebuah terapi hukum atas nama keadilan namun jelas belum menuntaskan persoalan. Raja belum juga mengambil tindakan untuk mengamankan kepeng yang dijarah atau menarik kebijakan dagang impor yang melukai para petani gurem. Rakyat masih menggerutu panjang lebar di bawah panggung menunggu raja menyampaikan amanat untuk kesejahteraan rakyat.

Tiba-tiba raja berdiri lalu berganti kostum ala Bang Roda Aroma tak lupa disandangnya sebuah gitar. Ah Raja merasa menjelma menjadi Satria terpilih yang diramalkan Raja Jaya Baya berabad-abad silam. Dalam benak raja kerajaan dangdut, satria bergitar sama pentingnya dengan satria piningit, manusia yang ditunjuk untuk menjadi raja diraja kerajaan dangdut. Ah,semua masalah kerajaan pasti bisa diselesaikan dengan nyanyian, puisi dan novel, pikir Raja penuh percaya diri. Tak heran jika akhir-akhir ini para seniman kerajaan dangdut banyak yang menganggur tak punya job karena Raja sudah lihai menyanyi dengan berbagai gaya dalam berbagai peristiwa.
elvis
Dengan penuh keyakinan Raja naik ke atas panggung. Jubah putih ala Elvis Presley yang dipakainya berkibar-kibar tertiup angin.
Rambut jambul Raja tersibak ketika angin bertiup. Raja membetulkan letak kaca mata hitamnya lalu menyibak rambut kanannya
ala King of Rock. Sepatu boot putih lancipnya berkilau menimbulkan silau dalam jarak ratusan meter dari panggung pertunjukan. Semua rakyat memicingkan mata. Dengan penuh percaya diri Raja mengambil mike dan bicara dengan penuh wibawa

“Baiklah rakyatku,…..sepertinya kalian sudah eneg dengan berbagai peristiwa yang terjadi di negera ini. Tenanglah….aku akan menyanyikan lagu untuk kalian supaya pikiran kalian rileks. Lupakan masalah….karena itu hanya akan membuat kita jantungan stroke dan cacingan. Biarkan hidup mengalir seperti roda, benar kan Bang Roda Aroma? Kenapa kita harus buru-buru menyelesaikan persoalan kalau kita bisa menundanya? Wokeyh….. sekarang kita tampilnya lagu baru dari Raja yang berjudul…Syahroni… Raja tetap dengan penuh percaya diri mulai memetik gitarnya ala King of Rock. Sepatu lancipnya menghentak-hentak lantai panggung.

Di bawah sana, rakyat diam terpaku, tak bisa mencerna maksud sang raja. Mungkin karena kelelahan setelah melaksanakan acara sumpah serapah. Mereka saling berpandang-pandangan, sudah tak mampu lagi bicara. Satu persatu rakyat pergi meninggalkan alun-alun kerajaan menuju rumah masing-masing meninggalkan sang raja yang bernyanyi sendirian. Ah lebih baik pulang ke rumah menyimpan tenaga karena hari ini sudah bolos kerja. Hidup harus terus berjalan dengan atau tanpa nyanyian sang raja. Rakyat sepertinya sudah terbiasa hidup dengan usaha sendiri. Di atas panggung Raja kebingungan, hanya tersisa sang permaisuri yang mendengarkannya bernyanyi hingga selesai. “Lho bune..mengapa orang-orang pergi meninggalkanku? Bukankah penampilanku di panggung tadi sangat sempurna? Permaisuri tersenyum dan terus bertepuk tangan. Beberapa petugas kebersihan di bawah panggung asik mengerjakan tanggung jawabnya mengangkuti sampah.

Matahari sudah mulai terbenam sinar merahnya semburat jingga. Warna cantiknya tak mampu menghapus kesedihannya melihat kerajaan dangdut yang tak juga berubah menuju arah perbaikan. Duh Gusti, sampai kapan rakyat negeri ini berharap?


TAGS politik Presiden SBY demokrasi impor kentang Marie Pangestu Dangdut Roma Irama Elvis Presley Raja Dangdut


-

Author

Follow Me