“Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu…”

24 Feb 2012

puisi  pernikahan

Azizah resah. Masih digenggamnya erat-erat undangan pernikahan warna pink bergambar sepasang kekasih yang tersenyum bahagia sedang bersampan di sebuah danau. Sang wanita terlihat anggun dalam balutan busana kebaya kerancang warna putih bersanggul cepol sementara sang lelaki memakai busana beskap putih gading lengkap dengan pecinya. Ah,..betapa beruntungnya Eka. Akhirnya ia menikah juga dengan kekasihnya.
Undangan pernikahan itulah penyebab keresahannya. Satu demi satu sahabatnya mengikat janji dengan pasangannya masing-masing sementara ia hingga saat ini masih terkatung-katung dalam hubungan yang semakin tak jelas dengan Hugo. Lelaki tampan yang memacarinya sejak lima tahun lalu itu tak sekalipun pernah menyinggung membawa hubungan mereka jauh ke depan sementara jika ia yang menyinggung masalah pernikahan Hugo tak terlihat antusias.
Masih diingatnya dulu betapa bangga dirinya saat Hugo akhirnya menjatuhkan cintanya pada Azizah. Betapa banyak pandangan iri sesama teman mahasiswi saat melihat keberuntungannya, yang mendapatkan lelaki dambaan semua perempuan. Ganteng, tajir, romantis, bermasa depan cerah dan dari keluarga pejabat terhormat. Namun kebanggaan itu makin lama makin pudar kini.
Kapan keluargamu akan datang menemui keluargaku? Bapak dan Ibu sudah bertanya berkali-kali.
Kita yang menjalani.kenapa harus memikirkan pendapat orang lain?
Mereka bukan orang lain, Hugo.Mereka orang tuaku, yang menginginkan hal terbaik bagi kebahagiaan putrinya.
Kita masih mudamasih banyak hal yang ingin kukejar dalam hidup. Pernikahan akan menghambat karirku kelak. Kau mau menanggung rasa bersalah di kemudian hari?
Apalagi yang ingin kau kejar? Kita berdua sudah lulus, sudah bekerja dan aku sudah siap menghadiahimu jagoan dan putri kecil. Semakin lama ditunda takkan baik buat hubungan kita. Aku wanita Asia yang hidup dalam keluarga tradisional dan religius Hugo sayang..mengertilah..
Oke ..oke..kapan kau ingin kunikahi? Pesta mewah seperti apa yang kau inginkan? Mas kawin apa yang kau harapkan? Beri aku waktu, biar aku wujudkan mimpimu!
Azizah diam. Hakikat menikah bukan untuk bermegah-megah. Adala sebuah naluri setiap manusia untuk berpasang-pasangan menciptakan keluarga. Perkawinan kebun sederhana yang dihadiri keluarga dan sahabat berhias bunga sedap malam yang khidmat itu keinginannya. Dengan posisi Hugo, ia yakin Hugo mampu. Tapi ia terus mengulur-ulur waktu dengan berbagai alasan. Apalagi kini saat perusahaannya mulai meroket. Azizah tak menutup mata jika relasi Hugo makin luas, terutama dengan para perempuan eksekutif yang mengelilinginya, yang sama-sama berasal dari keluarga pengusaha. Waktu yang dulu sering mereka habiskan berdua makin berkurang karena Hugo selalu sibuk. Jikapun mereka bisa bertemu akhirnya yang terjadi adalah perdebatan, bukan limpahan cinta dan kerinduan yang membuat waktu berlalu begitu cepat saat mereka bersama. Perdebatan tentang apa saja. Bahkan hal-hal yang dulu Hugo suka darinya kini justru dikritiknya. Dari penampilan, selera musik, buku juga profesinya.
Kenapa sih tak bisa berpenampilan lebih feminim? Dandan dunk biar cantik. Rambutnya digerai, cat pirang, diblower biar seksi jangan kucir kuda terus. Bosen lihatnya!
Hari gene masih dengerin Aubrey? Lady Gaga deh lebih enak!
Ganti kerjaan dunk sayangjadi guru berapa sih gajinya? Meskipun di sekolah internasional sekalipun! Kayanya kurang menjanjikan deh buat masa depan.
@@@
Apakah menurutmu Hugo masih mencintaiku? Tanya Azizah dengan nada putus asa pada Fian, tetangga dan sahabat dekatnya sejak mereka masih sekolah di TK. Saat sedih Azizah bisa bicara apa saja padanya. Saat itu mereka sedang jogging di komplek saat hari Minggu.
Aku tidak tahu, tapi aku rasa hati kecilmu bisa menilai perbedaan kadar hubungan kalian dulu dan kini. Tanyakan pada dirimu adakah engkau masih merasa nyaman saat bersamanya? Apa kalian masih memiliki mimpi yang sama yang ingin diwujudkan? Apa kalian masih nyambung dan menikmati saat bicara berdua?
Memang sih sekarang terasa beda tapi aku rasa itu karena dia sedang sibuk.
Berhentilah menipu dirimu sendiri Jijah. Tanya hati kecilmu, bersikaplah lebih obyektif dan jujur. Kalau ia masih mencintaimu, ia akan memintamu menjadi bagian hidupnya.
Azizah diam pikirannya menerawang jauh membayangkan kembali saat-saat bersama Hugo.
@@@
Azizah melihat dengan mata terbelalak tak percaya. Dilihatnya Hugo di restoran yang biasa mereka datangi namun dengan gadis cantik seksi yang menggelendot manja pada lengan Hugo. Mereka berbincang dan tertawa gembira. Hugo terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka, betapa berbeda saat lelaki itu bersamanya. Jadi inilah jawaban atas semua keganjilan sikap Hugo dan penghindarannya untuk membawa hubungan mereka ke jenjang lebih jauh. Hugo tak ingin berkomitmen dengannya. Disadarinya kini jika Hugo bersikap menunggu ia mengerti dan menyadari sendiri bahwa tak ada masa depan dalam hubungan mereka. Hugo hanya tak ingin terlihat sebagai lelaki brengsek yang tak menepati janji.
Tapi dengan menggantungku justru terasa makin menyakitkan. Bisiknya lirih pada diri sendiri. Didatanginya meja mereka berdua dengan hati yang mencoba tenang.
Kenapa tak berterus terang Hugo? Aku bisa menerima jika kau ingin hubungan kita berakhir. Daripada engkau menggantungku dan menjadikan aku merasa tak berharga di depanmu.
Hugo diam, memandanginya tanpa bicara. Tak ingin membela diri atau tak berusaha menjelaskan bahwa yang dilihat Azizah hanyalah sebuah kesalahpahaman. Gadis di samping Hugo diam namun pandangan matanya menusuk dan terasa merendahkan keberadaannya. Azizah merasa hatinya berdarah-darah. Azizah tahu, semua sudah berakhir. Mungkin sejak lama sebenarnya. Mestinya ia lebih jujur pada hatinya dan berhenti berharap dan mengkhawatirkan umurnya. Segera ia berlalu dari tempat itu. Tak ingin air matanya jatuh di depan mereka berdua. Sakit itu, nyeri hati itu kapankah berlalu?
@@@
Air matanya tumpah di ayunan belakang rumah Alfian tempat masa kecil mereka menghabiskan waktu bermain. Fian memandanginya tak bicara. Seperti biasa, ia hanya menjadi pendengar yang baik dari semua uneg-uneg Azizah. Masih dengan sesenggukan dan mata sembab dikeluarkannya semua sakit hatinya.
Kau tahu,yang paling menyedihkan,aku sudah menyiapkan kebaya putih yang akan kupakai di hari bersejarah itu, yang akan menjadi hari paling indah dalam hidupku. Juga segala pernik untuk menghias kamar pengantin kami nanti. Aku tak tahu bagaimana menghadapi pertanyaan keluargaku atas putusnya hubungan kami. Kalau saja aku tahu ia tak ingin berkomitmen denganku.
Lama hening menyelimuti, hanya isak tangis Azizah yang belum juga terhenti. Waktu berlalu sangat lambat. Matahari mulai beranjak ke barat menyemburatkan warna keemasan jingga di langit. Sunyi.
Jijah..
Azizah memandang Alfian dengan mata sembabnya. Iya
Bolehkah kebayamu untuk calon istriku saja?
Wajah Azizah terlihat tak rela. Hatinya jadi berdebar-debar aneh. Apa haknya melarang Fian nikah?
Maksudmu kamu juga akan melaksanakan pernikahan? Kenapa tak pernah cerita sama aku?
Karena aku sendiri pun tak yakin. Kau tahu,..calon pengantinku tak pernah mau mendengarkan aku. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Padahal aku ingin menghabiskan sepanjang sisa hidupku dengannya. Betapa aku ingin menjadi imam sholatnya, jadi orang yang pertama membangunkannya untuk bersama melakukan qiyamul lail. Bahwa aku ingin ia tahu kalau aku selalu bersedia menjadi telinga mendengar segala keluhannya, memeluk saat ia merasa lemah, menghibur kala ia merasa sedih dan berbagi saat aku merasa bahagia. Namun ia tak juga menyadari kehadiranku di sisinyajadi bagaimana aku bisa melamarnya?
Kenapa kau tak mengatakan kepadanya? Aku rasa ia akan bahagia mendengarnya
Menurutmu begitu? Ia takkan menolakku?
Oh Fiankau lelaki yang sangat baik. Bodoh sekali kalau perempuan itu menolakmu. Karena ia akan menjadi perempuan yang sangat beruntung saat menjadi istrimu.
Aku ingin ia menjadi ibu dari anak-anakku. Yang bersamanya aku ingin berbagi mimpi dan mewujudkannya. Aku ingin ia yang menemaniku melewati malam hingga pagi. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamanya, selamanya. Selalu ingin membuatnya bahagia hingga akhir waktu.
Alfian itu indah sekali
Maka menikahlah denganku, Jijahkarena kaulah perempuan itu.
Azizah mendongak, antara perasaan shock dan tak percaya ia memandang Alfian. Ia menjadi gugup, dan untuk pertama kali pipinya bersemu merah di depan teman masa kecilnya. Fian balas menatapnya, manik mata mereka pun bertemu.
Kau tahu teman, tak selalu perlu tutur kata untuk bicara bukan?


TAGS pernikahan Blogger Bicara cinta komitmen cintaperkawinan sepanjang hidupku pilot band romantis suami istri


-

Author

Follow Me